22
tgl
Publikasi : September 2015 H
Oleh : administrator

Tata Cara Shalat ‘Idain

Tata Cara Shalat ‘Idain

Tata Cara Shalat ‘Idain

Adapun tata cara sholat idul fitri atau idul adha adalah sebagai berikut

  1. Tidak didahului oleh adzan atau iqomah, Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ شَهِدْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الصَّلاَةَ يَوْمَ الْعِيدِ فَبَدَأَ بِالصَّلاَةِ قَبْلَ الْخُطْبَةِ بِغَيْرِ أَذَانٍ وَلاَ إِقَامَةٍ

Artinya: Dari Jabir Bin Abdullah Radhiyallahu Anhu ia berkata: Saya menyaksikan (mendirikan) sholat ‘Id bersama Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau Shollallahu ‘Alaihi Wasallam mendirikan sholat sebelum khutbah, tanpa azan dan tanpa iqomah.” (H.R Muslim Nomor 885)

Imam Asy-Syafi’I Rahimahullahu ta’ala Berkata: “akhbaronaa tsiqoh dari Az Zuhri ia berkata : “tidak dikumandangkan adzan untuk 2 sholat I’ed pada masa Nabi Sholollahu alaihi wa Salam tidak juga Abu Bakar, Umar dan Utsman, sampai Muawiyah membuat-buat hal itu di Syam dan juga Al Hajaaj di Madinah. Berkata Az Zuhri : Nabi Sholollahu alaihi wa Salam memerintahkan Muadzin pada 2 sholat I’ed untuk mengatakan : Ash-sholatul jaamiah”.([1])

  1. Hendaknya sholat didirikan sebelum khutbah ‘id, yaitu sholat dulu kemudian khutbah. sebagaimana Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ شَهِدْتُ الْعِيدَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَكُلُّهُمْ كَانُوا يُصَلُّونَ قَبْلَ الْخُطْبَةِ

Artinya: Dari Abdullah Bin Abbas Radhiyallahu Anhuma ia berkata: Saya menyaksikan (mendirikan) sholat ‘Id bersama Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, Dan juga menyaksikan (mendirikan) bersama abu Bakar, Umar Dan Utsman. Mereka semua mendirikan sholat sebelum khutbah”. (H.R Bukari Nomor 962,964, 5881)

Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam juga bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي فِي الْأَضْحَى وَالْفِطْرِ ثُمَّ يَخْطُبُ بَعْدَ الصَّلَاةِ

Artinya: Dari Abdullah Bin Umar Radhiyallahu Anhuma ia berkata: Sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam di waktu idul adha dan idul fitri, mendirikan sholat terlebih dahulu kemudian khutbah setelah sholat”. (H.R Bukari Nomor 957, 904)

  1. Shalat Id dilakukan dua rakaat, pada prinsipnya sama dengan shalat-shalat yang lain. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَرَجَ يَوْمَ أَضْحَى أَوْ فِطْرٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَمْ يُصَلِّ قَبْلَهَا وَلاَ بَعْدَهَا

Artinya: Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu menuturkan bahwasannya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam shalat pada hari ied dua rakaat, tidak shalat pada sebelumnya dan tidak pula sesudahnya.” (H.R Bukhari Nomor 945, 989,1449 Dan Muslim Nomor 1476)

Namun ada sedikit perbedaan yaitu dengan ditambahnya takbir pada rakaat yang pertama 7 kali dengan takbiratul ihram, dan pada rakaat yang kedua tambah 5 kali takbir selain takbiratul intiqal. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

حَدَّثَنَا أَبُو مَسْعُودٍ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ عَقِيلٍ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ خَالِدِ بْنِ عَثْمَةَ ، حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَوْفٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ كَبَّرَ فِي الْعِيدَيْنِ سَبْعًا فِي الأُولَى ، وَخَمْسًا فِي الآخِرَةِ.

Artinya: Dari Amr’ bin Auf, dari bapaknya dari kakeknya radhiyallahu ‘anhu menuturkan : “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  bertakbir pada shalat iedain (idul fitri dan idul adha) tujuh kali pada rakaat pertama dan lima kali pada rakaat terakhir (kedua –ed)” (HR. Ibnu Majah Nomor 1279, Dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

  1. Disunnahkan membaca dirakat pertama Qur’an Surat Qaf dan pada rakaat kedua Qur’an Surat Al-Qamar. Sebagaimana yang dijelaskan dalam sabda Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ سَعِيدٍ الْمَازِنِيِّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ سَأَلَ أَبَا وَاقِدٍ اللَّيْثِيَّ مَا كَانَ يَقْرَأُ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْأَضْحَى وَالْفِطْرِ فَقَالَ كَانَ يَقْرَأُ فِيهِمَا بِق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ وَاقْتَرَبَتْ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

Artinya: Dari Abdullah Bin Umar Radhiyallahu Anhuma ia berkata: Sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam di waktu idul adha dan idul fitri, mendirikan sholat terlebih dahulu kemudian khutbah setelah sholat”. (H.R Muslim Nomor 891)

Atau pada rakaat pertama Q.S Al-A’la, dan pada rakaat yang kedua Q.S Al-Ghasyiah

([1]) Al Umm (2/500/501 cet. Darul Wafa Tahqiq DR. Rifat Fauzi