13
tgl
Publikasi : September 2013 H
Oleh : administrator

Sedang Sakit kah Hatimu Wahai Saudara Ku ?

SAUDARAKU, hati adalah raja. Raja yang memerintah seluruh pasukan bala tentaranya. Semua tunduk patuh pada perintahnya, juga takut akan larangannya. Hati adalah raja, dari semua bagian tubuh. Tangan, kaki, kepala dan seluruh anggota badan tubuh adalah pasukan-pasukan setianya.

Dari hati yang bersih muncul lah niat yang bersih, dan dari hati yang kotor juga akan muncul niat yang kotor nan keji.

Berbicara masalah “niat”, sebuah tema yang dimana para ulama sejak jaman dahulu sampai sekarang telah berbicara banyak tentangnya, sehingga muncul lah kitab-kitab tebal karangan para ulama yang hanya berbicara masalah “niat”. Ibarat sebuah dinamo pada mesin, jika bersih dinamo tersebut maka akan lancar pula kinerja mesinnya. Tetapi kalau kotor dinamonya maka akan rusak pula mesin tersebut.

WAHAI SAUDARAKU ..
ketahuilah bahwa sesungguhnya niat itu berada di dalam hati. Tidak ada tempat bagi niat di lisan untuk semua amal peribadatan . Maka dari itu, kita dapatkan rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam ketika melakukan solat, zakat, puasa, haji beliau tidak pernah melafadzkan niat nya. Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam selalu menjadikan niat suatu ibadah itu di dalam hatinya. Ini dikarenakan, hakekat niat itu adalah berada di dalam hati bukan di lisan.

Bagi setiap muslim sudah seyogyanya untuk selalu mengikhlaskan niat nya semata-mata hanya kepada Alloh di setiap keadaanya, ucapannya, serta perbuatannya. Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ ».

“Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapat ganjaran sesuai dengan niatnya. Maka barangsiapa yang hijrohnya karena Alloh dan rosulNya maka hijrohnya kepada Alloh dan rosulNya, dan barangsiapa yang hijrohnya itu karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrohnya adalah kepada apa yang dia tuju (muttafaq ‘alaihi).

Makna dari perkataan rosul : “setiap orang hanya mendapat ganjaran sesuai niatnya” adalah bahwa setiap orang yang meniatkan ridho Alloh di setiap amalannya, maka dia akan mendapatkan ridho Alloh, sedangkan yang meniatkan dunia di dalam amalannya maka dia mempunyai dua kemungkinan, pertama dia mendapatkan semua apa yang di inginkan dari dunia, yang kedua dia tidak mendapatkan semua yang dia ingin kan dari dunia. Ini semua tergantung pada “kehendak Alloh” semata. Sebagaimana yang telah Dia jelaskan di dalam surat al-isro’ ayat 18-19 :

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا (18) وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا  [الإسراء : 18 ، 19]

Barang siapa yang menghendaki kehidupan (duniawi) sekarang, maka kami akan segerakan baginya di (dunia) ini apa-apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) neraka jahannam, dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha kearah itu dengan sungguh-sungguh,sedang dia beriman maka mereka itulah orang-orang yang usahanya akan dibalas dengan kebaikan.

Perhatikanlah ayat di ini : {maka Kami akan segerakan bagi nya ( didunia ) apa-apa yang Kami kehendaki }, dan Alloh tidak menyebut  ” yang mereka kehendaki”. Ini menunjukan bahwa segala apapun yang ada di dunia ini adalah atas kehendakNya. Tidak ada campur tangan sedikit pun dari makhluqNya. Maka sungguh merugi lah orang-orang yang hidup nya selalu memikirkan serta menginginkan dunia. Jauh diri nya dari rasa takut akan adzabNya dan nerakaNya. Nas’alullohal ‘afiyata was salaamah.

WAHAI SAUDARAKU…

Jagalah selalu hati kita dari semua penyakit-penyakit hati. Kedengkian, sombong, hasad, riya’ dll. Jangan lah kita harapkan pujian-pujian manusia yang menipu. Carilah dan kejarlah ridho Alloh semata. Ketahuilah, bahwa Alloh itu akan meninggal kan seorang hamba yang dimana dia mencampurkan di dalam hati nya pengharapan kepada ridho Alloh dan ridho manusia. Suatu niat ikhlas dalam peribadatan adalah hak khusus milik Alloh,dan Alloh tidak akan pernah ridho untuk disyirikkan di segala aspek peribadatan.

Di dalam islam, syirik riya’ (ingin mendapatkan pujian makhluk) adalah perkara yang sangat vital. Ini telah dijelaskan oleh banyak nya ayat-ayat di Al-quran serta hadis-hadis rosululloh. Di antaranya adalah sebuah hadis shohih yang diriwiyatkan oleh Imam Muslim di dalam shohihnya,bahwasanya rosululloh sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ ».

“Sesungguhnya Alloh berfirman: Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh dengan syirik, barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yg dia syirikkan yang lain dengan Aku, maka Aku tinggalkan dia bersama kesyirikannya

Dan juga patut kita renungi bersama wahai saudaraku, bahwa sesungguhnya Alloh Maha Mengetahui apa yang ada di dalam hati seseorang, sebagaimana firmanNya :

قُلْ إِنْ تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَيَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ  [آل عمران : 29]

“Katakanlah: jika kamu sembunyikan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu nyatakan, Alloh pasti mengetahuinya. Dia mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Alloh Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (ali imron:29).

Maka dari itu, hendak nya setiap dari kita selalu mengikhlaskan semua peribadatan hanya semata-mata untuk Alloh. Inilah hakikat sebuah ketaqwaan yang Alloh perintahkan kepada seluruh makhluqNya, sebagaimana yang tertera di firmanNya :

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ [البينة : 5]

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Alloh dengan ikhlas menaatiNya, semata mata karena (menjalankan) agama, …  “. (al bayyinah:5).

WAHAI SAUDARAKU…

Sebuah “niat” selayaknya harus ada disetiap amal ibadah kita. Ketika akan berwudhu, hadirkanlah niat kita berwudhu untuk hanya Alloh serta sadarkan lah hati kita bahwa ibadah yang kita lakukan ini adalah sebagai bentuk ketundukkan dan kepatuhan kita kepada Alloh. Oleh karena itu, para ulama telah menuliskan tiga hal yang selayaknya kita hadirkan ketika berniat :

1/ Meniatkan dzat ibadah itu sendiri.

2/ Meniatkan bahwa ibadah ini hanya untuk Alloh semata.

3/ Meniatkan bahwa sesungguhnya dia mengerjakan ibadah ini dikarenakan ketundukannya padaNya.

Ketiga hal ini jika selalu kita hadirkan di setiap ibadah kita maka ketenangan, kekhusyukkan serta keikhlaskan akan selalu mengiringi hembusan nafas kita.

Fudhoil bin ‘iyadh berkata :

ترك العمل لاجل الناس رياء و العمل لاجل الناس شرك و الاخلاص ان يعافيك منهما

“Meninggalkan amalan ibadah karena manusia adalah riya’, beramal karena manusia adalah syirik, sedangkan ikhlas adalah jika Alloh menyelamatkan kamu dari kedua perkara tersebut.”

Riya’ itu ada dua macam. Yang pertama adalah riya’ yang hanya mengharapkan ridho manusia saja. Sedang yang kedua adalah riya yang mengharapkan ridho Alloh dan ridho manusia.

Niat seseorang dalam menjalan kan ibadah adalah berbeda dengan yang lainnya. Ada orang yang niat keikhlasannya untuk mencari ridho Alloh tinggi setinggi langit, dan ada juga orang yang niat nya sangat lah rendah, hanya karena dia rakus dan tamak dalam mencari ridho manusia. Sehingga tidak jarang kita mendapatkan dua orang yang sama-sama sedang melakukan solat, bacaan kedua nya sama, gerakannya sama, waktu mulai dan akhir solatnya pun sama tetapi pada hakekat nya adalah berbeda. Kenapa ini bisa terjadi? Tidak lain dan tidak bukan adalah karena niat kedua nya yang berbeda. Orang yang pertama solat mendirikan solat demi mendapatkan pujian dari manusia, sedangkan yang kedua dia mendirikan solat semata-mata mencari ridho Alloh.

WAHAI SAUDARAKU…

niat adalah pembeda disetiap amal ibadah. Untuk itu para ulama mengatakan :

شرعت النية في العبادة لتمييز بين العادة و العبادة و ايضا لتمييز رتب العبادة

“Diwajibkannya sebuah niat di setiap ibadah adalah sebagai pembeda antara ibadah dan kebiasaan, juga sebagai pembeda tiap-tiap derajat ibadah (dikarenakan ibadah ada yang berupa wajib dan sunnah).

Sebagai contoh yang menunjukan bahwa niat adalah pembeda antara sebuah kebiasaan dan ibadah adalah “duduk-duduk di masjid”, ada orang yang duduk di masjid dengan niatan hanya untuk sekedar istirahat dikarenakan capek dan ada juga yang duduk di masjid dengan niatan untuk beri’tikaf. Kedua nya secara dzhohir adalah sama-sama duduk tetapi pada hakekatnya adalah berbeda. Yang awal tidak mendapatkan pahala sedangkan yang lainnya mendapatkan pahala. Disinilah terdapat manfaat sebuah dalam menghadirkan niat di setiap ibadah-ibadah kita.

Sedangkan contoh yang menunjukan niat adalah pembeda tiap-tiap derajat ibadah adalah sholat 2 rokaat yang dilakukan di saat fajar. Ada yang mendirikan dua rokaat ini dengan niatan solat sunnah fajar dan ada juga yang mendirikannya dengan niatan sholat wajib subuh.

Sebagai penutupan,kami akan menuliskan sebuah perkataan hikmah dari seorang ulama yang bernama imam ghozali. Kali berkaitan dengan sebuah pertanyaan, manakah yang lebih afdhol sebuah ibadah yang dilakukan dengan rasa penuh takut (al khouf) atau dengan rasa penuh harapan (arroja’)? Berkata imam ghozali : “Suatu ibadah akan lebih afdhol jika dikerjakan dengan penuh rasa pengharapan (ar-roja’) karena sesungguhnya roja’ akan membuahkan kecintaan, sedangkan rasa takut akan membuahkan rasa putus harapan (putus asa).

 

Abu abdillah al indunisi, jum’at 8 dzul qo’dah

Kasala, sudan

Wallohu a’lam bish showab