20
tgl
Publikasi : Juni 2015 H
Oleh : administrator

Pengertian, Hukum Dan Sejarah Turunnya Syari’at Puasa

Pengertian, Hukum Dan Sejarah Turunnya Syari'at Puasa

Pengertian, Hukum Dan Sejarah Turunnya Syari’at Puasa

  1. Pengertian Puasa Menurut Bahasa Dan Istilah

Puasa menurut bahasa adalah Al-imsaak (menahan) Sedangkan menurut istilah Puasa adalah menahan diri dari segala yang membatalkan puasa mulai dari terbitnya fajar shodiq sampai terbenamnya matahari.

Catatan:

Semua syari’at Allah (atau istilah syar’i) tidak boleh dibawa kepada menurut bahasa karena itu akan memalingkan dari yang dimaksudkan oleh Allah ‘azza wajalla dan RasulNya kepada makna yang lainya. baik itu dalam masalah shalat, haji juga puasa serta ibadah-ibadah lainya.

Contoh: makna puasa yang dimaksud Allah azza wajalla adalah seperti yang telah kita paparkan diatas, bukan seperti yang ada dalam Q.S Maryam (إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا), karena dalam ayat itu adalah puasa menurut bahasa yaitu dimaksudkan menahan diri dari berbicara.

  1. Hukum Dan Dalil disyari’atkanya Puasa

Hukum puasa adalah wajib bagi setiap muslim yang balig dan berakal. Ini Berdasarkan Firman Allah Subuhanahu Wata’ala Didalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah Ayat 183:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

Dan juga Sabda Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam:

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله وسلم يَقُوْلُ : بُنِيَ اْلإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ : شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّداً رَسُوْلُ اللهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءُ الزَّكَاةِ وَحَجُّ الْبَيْتِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ.

Artinya : Dari Abu Abdurrahman, Abdullah bin Umar bin Al-Khottob Radiyallahu ‘Anhuma Dia Berkata : Saya mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam Bersabda : Islam dibangun diatas lima perkara; Bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan bahwa nabi Muhammad utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, melaksanakan haji dan puasa Ramadhan. (Riwayat Muslim Nomor 21 dan Tirmidzi No 2609)

  1. Sejarah Turun Syari’at Puasa

Pertama kali disyari’atkan Puasa Ramadhan adalah pada tanggal 10 Sya’ban 2 H, yaitu setelah perintah penggantian kiblat dari masjidil Al-Aqsha ke Masjid Al-Haramdan mulai saat itulah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam menunaikan ibadah shaum Ramadhan dan mewajibkan kepada para sahabatnya (ummatnya). Beliau berpuasa selama hidupnya sebanyak sembilan kali.

Syari’at Puasa Ramadhon turun secara bertahap yaitu sebanyak tiga tahap. Ini seperti yang disebutkan oleh Ibnul Qayyim Rahimahullahu ta’ala didalam kitabnya Zadul Ma’ad kitabus shiyam jilid 2 halaman 20 :

Tahap Pertama : Bersifat takhyir (pilihan(. Ini berdasarkan firman Allah ‘Azza Wajalla:

وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ.

Artinya: Dan wajib bagi orang yang berat untuk menjalankan ash-shaum maka membayar fidyah yaitu dengan cara memberi makan seorang miskin untuk setiap harinya. Barang siapa yang dengan kerelaan memberi makan lebih dari itu maka itulah yang lebih baik baginya dan jika kalian melakukan shaum maka hal itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahuinya.” (Q.S Al-Baqarah 184)

Berkata Al-Hafizh Ibnu Katsir Rahimahullah : “Adapun orang yang sehat dan mukim (tidak musafir) serta mampu menjalankan puasa, maka diberikan pilihan antara menunaikan puasa atau membayar fidyah. Jika mau maka dia bershaum dan bila tidak maka dia membayar fidyah yaitu dengan memberi makan setiap hari kepada satu orang miskin. Kalau dia memberi lebih dari satu orang maka ini adalah lebih baik baginya.”(([1])

Tahap Kedua    : Bersifat Qath’i (mutlak), akan tetapi jika seorang yang melakukan puasa kemudian tertidur sebelum berbuka maka diharamkan baginya makan dan minum sampai hari berikutnya (Lihat Hadits Bukhari Nomor   yang ada di tahap ketiga) .

Tahap Ketiga : yaitu yang berlangsung sekarang dan berlaku sampai hari kiamat sebagai nasikh (penghapus) hukum sebelumnya. Inilah Berdasarkan Hadits Yang diriwayatkan Al Barra’ Ibnu ‘Azib:

عَنِ الْبَرَاءِ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ كَانَ أَصْحَابُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ الرَّجُلُ صَائِمًا فَحَضَرَ الإِفْطَارُ فَنَامَ قَبْلَ أَنْ يُفْطِرَ لَمْ يَأْكُلْ لَيْلَتَهُ ، وَلاَ يَوْمَهُ حَتَّى يُمْسِيَ وَإِنَّ قَيْسَ بْنَ صِرْمَةَ الأَنْصَارِيَّ كَانَ صَائِمًا فَلَمَّا حَضَرَ الإِفْطَارُ أَتَى امْرَأَتَهُ فَقَالَ لَهَا أَعِنْدَكِ طَعَامٌ قَالَتْ لاَ وَلَكِنْ أَنْطَلِقُ فَأَطْلُبُ لَكَ ، وَكَانَ يَوْمَهُ يَعْمَلُ فَغَلَبَتْهُ عَيْنَاهُ فَجَاءَتْهُ امْرَأَتُهُ فَلَمَّا رَأَتْهُ قَالَتْ خَيْبَةً لَكَ فَلَمَّا انْتَصَفَ النَّهَارُ غُشِيَ عَلَيْهِ فَذُكِرَ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَنَزَلَتْ هَذِهِ الآيَةُ {أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ} فَفَرِحُوا بِهَا فَرَحًا شَدِيدًا وَنَزَلَتْ {وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ}.

Artinya : “Dari Al-bara’ Radhiyallahu ‘Anhu, Ia berkata: “Dahulu Shahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam jika salah seorang di antara mereka shaum kemudian tertidur sebelum dia berifthar (berbuka) maka dia tidak boleh makan dan minum di malam itu dan juga siang harinya sampai datang waktu berbuka lagi. Dan (salah seorang shahabat yaitu), Qois bin Shirmah Al Anshory dalam keadaan shaum, tatkala tiba waktu berbuka, datang kepada istrinya dan berkata : apakah kamu punya makanan ? Istrinya menjawab : “Tidak, tapi akan kucarikan untukmu (makanan).” – dan Qois pada siang harinya bekerja berat sehingga tertidur (karena kepayahan)- Ketika istrinya datang dan melihatnya (tertidur) ia berkata : ” Rugilah Engkau (yakni tidak bisa makan dan minum dikarenakan tidur sebelum berbuka- pen) !” Maka ia pingsan di tengah harinya. Dan ketika dikabarkan tentang kejadian tersebut kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam, maka turunlah ayat :

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ

Artinya: “Telah dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan shaum (Ramadhan) untuk berjima’ (menggauli) istri-istri kalian.”

dan para shahabat pun berbahagia sampai turunnya ayat yang berikutnya yaitu :

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ

Artinya: “Dan makan serta minumlah sampai jelas bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar.”([2])

==================================================

([1]) Tafsir Ibnu Katsir jilid 1, hal. 180 (Surat Al-Baqarah ayat 184)

([2]) Al-Bukhari (1915); Tirmidzi (2968), An-nasa’I (2168), Abu Daud (2314), Ibnu Hibban (3460), Ad-darimi

           (1693).    Lihat juga Tafsir Ibnu Katsir (II/281) dalam menafsirkan QS Al-Baqarah : 183 -185.