21
tgl
Publikasi : Maret 2015 H
Oleh : administrator

Memahami Posisi Imam Dan Makmum Di Dalam Sholat

Memahami Posisi Imam Dan Makmum Di Dalam Sholat

Memahami Posisi Imam Dan Makmum Di Dalam Sholat

Masih banyak dari kalangan kaum muslimin yang belum memahami permasalahan ini secara detail. Yang mereka pahami bahwa posisi makmum dalam sholat adalah selalu dibelakang imam, tanpa ada perincian didalamnya, baik itu makmumnya hanya satu, dua atau banyak.

Maka oleh karena itu, disini kami akan jelaskan secara detail posisi shaff kaum muslimin ketika hendak mengerjakan sholat.

Dalam masalah sholat baik itu sholat sendiri atau shalat secara berjamah bila dikaitkan dengan masalah shoff maka dapat dibagi menjadi beberapa keadaan:

  1. Apabila seorang sholat sendirian (sholat sunnah), maka shoffnya (tempat ia sholat) silakan disudut mana saja didalam masjid tersebut, akan tetapi hendaknya memakai sutra (penghalang) karena orang yang sedang sholat, ia sedang bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga, bila ada sesuatu yang lewat di hadapannya akan memutus munajat tersebut serta mengganggu hubungan ia dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam shalatnya. Oleh sebab itu, siapa yang sengaja lewat di depan orang shalat, ia telah melakukan dosa yang besar. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ إِلَى شَيْءٍ يَسْتُرُهُ مِنَ النَّاسِ فَأَرَادَ أَحَدٌ أَنْ يَجْتَازَ بَيْنَ يَدَيْهِ فَلْيَدْفَعْهُ فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ

Artinya: “Apabila salah seorang dari kalian shalat menghadap sesuatu yang bisa menghalanginya dari manusia, lalu ada seseorang ingin lewat di hadapannya, hendaknya ia menolak/mencegahnya. Bila orang yang hendak lewat itu enggan tetap memaksa untuk lewat maka hendaknya ia memeranginya karena dia itu setan.” (HR. Al-Bukhari no. 509 dan Muslim no. 1129)

Cacatan:

  • Lebih utama sholat dishoff paling depan yang dekat dengan tembok atau di dekat tiang masjid karena didepannya adalah langsung sitir/tembok (penghalang), orang tidak akan lalu lalang disitu.
  • Jika tempat yang dekat dengan tembok/tiang sudah penuh silakan sholat dimana saja, akan tetapi letakkan didepan sesuatu yang bisa dijadikan sitir (penghalang) orang yang ingin lewat didepan kita yang sedang sholat.
  • Sitirnya makmum adalah imam, maka jika sholat berjamaah maka hendaklah didepan imam ada sitir (penghalang).
  1. Apabila Makmum Seorang Laki-Laki Saja, maka posisi makmum adalah disamping kanan dan sejajar dengan imam. Landasanya adalah hadits Rasulullah shollalllahu ‘alaihi wasallam:

وَحَدَّثَنِى حَجَّاجُ بْنُ الشَّاعِرِ حَدَّثَنِى مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ الْمَدَائِنِىُّ أَبُو جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا وَرْقَاءُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ فَانْتَهَيْنَا إِلَى مَشْرَعَةٍ فَقَالَ « أَلاَ تُشْرِعُ يَا جَابِرُ ». قُلْتُ بَلَى – قَالَ – فَنَزَلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَشْرَعْتُ – قَالَ – ثُمَّ ذَهَبَ لِحَاجَتِهِ وَوَضَعْتُ لَهُ وَضُوءًا – قَالَ – فَجَاءَ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ قَامَ فَصَلَّى فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ خَالَفَ بَيْنَ طَرَفَيْهِ فَقُمْتُ خَلْفَهُ فَأَخَذَ بِأُذُنِى فَجَعَلَنِى عَنْ يَمِينِهِ.

Artinya: Dari Jabir berkata: “Saya pernah bersama Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam suatu perjalanan. Lalu kami sampai di sebuah jalan di pinggir sungai. Beliau bersabda, “Jangan engkau memulainya wahai Jabir”?. Aku berkata, “Ya”. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallampun singgah dan akupun memulainya. Kemudian Beliau pergi untuk menunaikan hajatnya dan akupun menyediakan air wudlu untuknya. Lalu Beliaupun datang dan berwudlu, kemudian sholat dengan mengenakan satu kain yang diselempangkan antara dua ujungnya. Dan akupun berdiri di belakangnya lalu Beliau memegang telingaku dan meletakkanku di sebelah kanannya. [HR Muslim: 766].

Dalam riwayat lain juga dijelaskan:

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ قَالَ : حَدَّثَنَا شُعْبَةُ ، عَنِ الْحَكَمِ قَالَ : سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ بِتُّ فِي بَيْتِ خَالَتِي مَيْمُونَةَ فَصَلَّى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم الْعِشَاءَ ثُمَّ جَاءَ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ نَامَ ثُمَّ قَامَ فَجِئْتُ فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ فَصَلَّى خَمْسَ رَكَعَاتٍ ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ نَامَ حَتَّى سَمِعْتُ غَطِيطَهُ ، أَوْ قَالَ خَطِيطَهُ ، ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلاَةِ.

Artinya : Dari Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu anhuma dia berkata: “Aku pernah menginap di rumah bibiku, Maimunah. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi shalat ‘isya kemudian kembali ke rumah dan shalat sunnat empat rakaat, kemudian beliau tidur. Saat tengah malam beliau bangun dan shalat malam, aku lalu datang untuk ikut shalat bersama beliau dan berdiri di samping kiri beliau. Kemudian beliau menggeserku ke sebelah kanannya, lalu beliau shalat lima rakaat, kemudian dua rakaat, kemudian tidur hingga aku mendengar suara dengkur beliau. Setelah itu beliau kemudian keluar untuk shalat (shubuh)”. [HR. al-Bukhari: 697 Bab: makmum berdiri sejajar tepat di samping kanan imam jika mereka hanya sholat berdua)

Juga dalam hadis lain dijelaskan:

وَحَدَّثَنِي عَنْ مَالِكٍ ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُتْبَةَ ، عَنْ أَبِيهِ ، أَنَّهُ قَالَ : دَخَلْتُ عَلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بِالْهَاجِرَةِ فَوَجَدْتُهُ يُسَبِّحُ ، فَقُمْتُ وَرَاءَهُ ، فَقَرَّبَنِي حَتَّى جَعَلَنِي حِذَاءَهُ عَنْ يَمِينِهِ ، فَلَمَّا جَاءَ يَرْفَا تَأَخَّرْتُ فَصَفَفْنَا وَرَاءَهُ.

Artinya: Dari Abdullah bin Utbah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku pergi masuk mengunjungi Umar bin al-Khaththab pada waktu siang. Aku dapati beliau sedang sholat sunnah. Maka aku pun berdiri di belakangnya (sebagai makmum). Lalu beliau menarikku ke arahnya dan menempatkanku sejajar di sisi kanannya”. (Muwaththa’ Imam Malik: 32. Lihat Fat-h al-Bariy: II/ 191 dan al-Qoul al-Mubin halaman 215)

Beberapa dalil diatas menjelaskan bahwa jika ada dua orang hendak sholat, yang satunya jadi imam dan yang lain makmum, maka posisinya adalah makmum berada di sebelah kanan imam bukan di belakangnya dan sejajar dengan imam, bukan maju atau mundur sedikit.

  1. Apabila makmumnya seorang pria dan seorang wanita. Maka posisi laki-laki disamping kanan dan sejajar dengan imam. Sedangkan posisi wanita harus dibelakang mereka berdua.dalilnya adalah:

أخبرنا محمد بن عبد الرحمن الدغولي قال : حدثنا عبد الرحمن بن بشر بن الحكم قال : حدثنا الحجاج بن محمد قال : قال ابن جريج : أخبرني زياد بن سعد أن قزعة مولى لعبد القيس أخبره أنه سمع عكرمة يقول : قال ابن عباس : صليت إلى جنب النبي صلى الله عليه و سلم و عائشة خلفنا تصلي معنا وأنا إلى جنب النبي صلى الله عليه و سلم أصلي معه )قال شعيب الأرنؤوط : إسناده صحيح (

Artinya: Dari Abdullah bin Abbas radliyallahu anhuma berkata “Aku sholat di sisi Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan Aisyah di belakang kami sholat bersama kami. Sedangkan aku di samping Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sholat bersamanya”. [HR an-Nasa’iy: II/ 86 dan Ahmad: I/ 304. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].

Didalam hadits lain juga dijelaskan:

 أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ ، قَالَ : حَدَّثَنَا يَحْيَى ، عَنْ شُعْبَةَ ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْمُخْتَارِ ، عَنْ مُوسَى بْنِ أَنَسٍ ، عَنْ أَنَسٍ قَالَ : صَلَّى بِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَبِامْرَأَةٍ مِنْ أَهْلِي ، فَأَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ ، وَالْمَرْأَةُ خَلْفَنَا. قال الشيخ الألباني : صحيح

Artinya: Dari Anas radliyallahu anhu berkata “Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam pernah sholat bersamaku dan seorang wanita dari keluargaku. Beliau menempatkan aku di sebelah kanannya dan wanita itu di belakang kami”. [HR an-Nasa’iy: II/ 86-87 dan Muslim: 660. Berkata asy-Syaikh al-Albaniy: Shahih].

  1. Apabila makmumnya dua orang laki-laki dan seorang wanita. Maka posisi laki-laki dibelakang imam. Sedangkan posisi wanita harus dibelakang makmum laki-laki, dalilnya adalah:

 حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ إِسْحَاقَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ صَلَّيْتُ أَنَا وَيَتِيمٌ فِي بَيْتِنَا خَلْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمِّي أُمُّ سُلَيْمٍ خَلْفَنَا

Artinya: Dari Anas radliyallahu anhu berkata: “Aku sholat bersama seorang anak yatim di rumah kami di belakang Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, dan ibuku Ummu Sulaim di belakang kami” (HR al-Bukhoriy: 727)

  1. Apabila makmumnya seorang laki-laki dan dua orang wanita. Maka posisi laki-laki disamping kanan dan sejajar dengan imam. Sedangkan posisi dua wanita harus dibelakang makmum laki-laki, dalilnya adalah:

وَحَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ حَدَّثَنَا أَبِى حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُخْتَارِ سَمِعَ مُوسَى بْنَ أَنَسٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَلَّى بِهِ وَبِأُمِّهِ أَوْ خَالَتِهِ. قَالَ فَأَقَامَنِى عَنْ يَمِينِهِ وَأَقَامَ الْمَرْأَةَ خَلْفَنَا.

Artinya: Dari Anas radliyallahu anhu berkata: “Sesungguhnya Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam solat dengannya dan ibunya atau bibinya. Anas berkata, “Lalu Rosulullah meletakkanku berdiri di sebelah kanannya dan wanita di belakang kami.” [HR Muslim: 660)

  1. Apabila makmumnya banyak laki-laki dan banyak wanita. Maka posisi laki-laki dibelakang imam. Sedangkan posisi wanita harus dibelakang makmum laki-laki, dalilnya adalah:

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا ».

Artinya: Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu dia berkata, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Bersabda : “Sebaik-baik shaff kaum laki-laki adalah yang paling awal, dan sejelek-jeleknya adalah paling terakhir. Dan sebaik-baik shaff wanita adalah paling terakhir, dan sejelek-jeleknya adalah yang paling awal”. [HR. Muslim: 440)

Dan Juga Hadits Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam:

ثُمَّ جِئْتُ حَتَّى قُمْتُ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخَذَ بِيَدِي فَأَدَارَنِي حَتَّى أَقَامَنِي عَنْ يَمِينِهِ ثُمَّ جَاءَ جَبَّارُ بْنُ صَخْرٍ فَتَوَضَّأَ ثُمَّ جَاءَ فَقَامَ عَنْ يَسَارِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدَيْنَا جَمِيعًا فَدَفَعَنَا حَتَّى أَقَامَنَا خَلْفَهُ

Artinya: Dari Jabir radliyallahu anhu di dalam hadits yang panjang, di antaranya “Kemudian aku datang sampai berdiri di sebelah kiri Rosulullah, lalu beliau memegang tanganku dan menarikku hingga membuatku berdiri di sebelah kanannya. Kemudian datang Jabbar bin Shakhr, lalu ia berwudhu kemudian datang dan berdiri di sebelah kiri Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam, lalu Rosulullah Shallallahu alaihi wa sallam memegang tangan kami berdua dan mendorong kami hingga membuat kami berdiri di belakang beliau”. [HR Muslim: 3010].

Oleh Abu Humaira Wa Sumaira