Event - Dauroh - Kajian
Event

Rangkaian Faidah Majlis Samā’ Shāẖīẖ al-Bukhārī Seri #1

“Aku mendengar Rasulullāh ﷺ mengatakan, ‘Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niatnya. Dan seseorang mendapatkan sesuai apa yang dia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan kemana ia berhijrah’ ”

– Dimulai Dengan yang Asing –

Bismillāh Ar-Raẖmān Ar-Raẖīm

Telah meriwayatkan al-Imām al-Bukhārī raẖimahullāh ta’ālā:

حدثنا الحميدي عبد الله بن الزبير قال حدثنا سفيان قال حدثنا يحيى بن سعيد الأنصاري قال أخبرني محمد بن إبراهيم التيمي أنه سمع علقمة بن وقاص الليثي يقول سمعت عمر بن الخطاب رضي الله عنه على المنبر قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول إنما الأعمال بالنيات وإنما لكل امرئ ما نوى فمن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو إلى امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه

H̱addatsanā al-Humaydī, ‘Abdullāh bin az-Zubayr, dia berkata:
ẖaddatsanā Yaẖyā bin Sa’īd al-Anshārī, dia berkata:
akhbaranī Muẖammad bin Ibrāhīm at-Taymī, bahwasanya dia telah mendengar ‘Alqamah bin Waqqāsh al-Laytsī mengatakan:
Aku telah mendengar ‘Umar bin al-Khaththāb radhiAllāhu ‘anhu diatas mimbar berkata:

“Aku mendengar Rasulullāh ﷺ mengatakan, ‘Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung niatnya. Dan seseorang mendapatkan sesuai apa yang dia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan kemana ia berhijrah’ ”

Faidah:

1. H̱adīts ini merupakan ẖadīts gharīb (terjemah: asing). Al-Imām al-Bukhārī mengisyaratkan riwayat dari Nabi kita ﷺ:

…بدأ الإسلام غريباً وسيعود غريباً كما بدأ

“Islam itu dimulai sebagai sesuatu yang asing. Dan akan kembali menjadi asing sebagaimana mulainya…”

Perhatikan bagaimana pemilihan ẖadīts yang dilakukan oleh al-Imām al-Bukhārī raẖimahullāh. Banyak riwayat lain yang bisa dijadikan ẖadīts sandaran dalam masalah niat, akan tetapi beliau sengaja memilih ẖadīts gharīb ini untuk memulai shaẖīẖ-nya untuk menyesuaikan:

– Judul bab yaitu”باب بدء الوحي” (terjemah: Permulaan Wahyu), dengan hadits pertama/permulaan hadits dalam kitab
– Pensifatan tentang asing-nya permulaan Islām, yang bermulai saat Allāh menurunkan wahyu kepada Rasulullāh ﷺ
– Konten dari hadīts mengenai niat sebagai isyarat agar para pembacanya agar selalu memperhatikan niat-nya

Dan mengumpulkan hal itu semua dalam satu hadīts menunjukan betapa dalamnya fiqh/pemahaman al-Imām al-Bukhārī raẖimahullāh ta’ālā.

Bonus:
Dan akan bertambah kekaguman kita, jika kita perhatikan ẖadīts terakhir dalam Ash-Shaẖīẖ yang ternyata juga merupakan ẖadīts gharīb.
Sehingga kitab Ash-shaẖīẖ dimulai dengan ẖadīts gharīb/asing dan diakhiri juga dengan ẖadīts gharīb/asing, sebagaimana Islām yang dimulai dengan keterasingan dan akan kembali menjadi asing.

Raẖimahullāh raẖmatan wāsi’an.

2. Para ‘Ulama dari dulu sampai sekarang terus merasa takjub akan pemilihan hadīts, pembuatan judul bab serta penyusunan konten dalam kitab Shaẖīẖ al-Bukhārī.
Mengutip al-Ustādz Abū Ayman, “Banyak ‘Ulama yang mengatakan bahwa Shaẖīẖ al-Bukhārī adalah madrasah. Tidak akan habis digali ilmu, faidah dan hikmah yang terkandung didalamnya.”

3. Perhatikanlah. Bahwa sebab utama keterasingan islam pada saat mulainya adalah masalah tawhid. Masalah ‘aqidah.
Berkata al-ustādz, “Kasian mereka yang sangat bangga akan jenggot-nya, cingkrang-nya, tetapi jahil akan aqidahnya.”

Faidah-faidah ini didapatkan dalam Majlis Samā’ Shāẖīẖ al-Bukhārī
Pemateri: al-Ustādz Abū Ayman As-Saurī Lc., MA.
Tempat: Ma’had Al Bashiroh RQ Ciganjur

*Catatan:
Dikarenakan kelemahan hafalan ana, maka perkataan al-Ustādz yang dinukil dalam faidah ini (dan yang akan datang insyā Allāh),
maka itu adalah penukilan bil ma’nā tanpa mengurangi dan menambah esensi perkataan.

Sumber : Fb Fadil Mulyono