22
tgl
Publikasi : Januari 2015 H
Oleh : administrator

Cara Bersuci Wanita Mustahadhoh

Cara Bersuci Wanita Mustahadhoh

Cara Bersuci Wanita Mustahadhoh

Para ulama salaf ahlul ilmi berbeda pendapat tentang bentuk thoharoh yang wajib di lakukan oleh seorang wanita mustahadhoh :

Pendapat pertama :

– Hendak nya wanita mustahadhoh berwudhu setiap sholat. Pendapat ini diriwayatkan dari ali bin abi tholib, ibnu abbas, aisyah, dan urwah.

Dan ini juga merupakan pendapat malik beserta ash habuhu abdul malik bin al majisyun, muhammad bin maslamah, abu mush’ab, sufyan ats-tsauri beserta ahlul ilmi dari Iraq yang mengikutinya. dan di hikayat kan pendapat tersebut dari ibnul mubarok dan abdurohman bin mahdi.

Begitu juga syafi’i, ahmad, ishaq, abu tsaur berkata. Hanya saja ahmad bin hanbal beserta ishaq berpendapat : hendak nya perempuan mustahadhoh tersebut mandi setiap kali akan sholat. Kalaupun tidak dapat mandi setiap sholat, maka hendaknya dia menjama’ diantara dua sholat dengan satu mandi, dan kalaupun tidak dapat melakukannya maka hendaknya dia berwudhu di setiap sholat maka yang seperti itu cukup bagi nya.

 

Pendapat kedua :

– Hendak nya wanita mustahadhoh mandi sekali setiap hari.

Pendapat ini diriwayatkan dari aisyah ( riwayat kedua ) bahwasanya aisyah berkata : hendaknya wanita mustahadhoh mandi sekali setiap hari kemudian sholat.

Dan berkata ibnu al musayyib : hendaknya dia (wanita mustahadhoh) mandi sekali setiap dari waktu dzhuhur ke dzuhur dan wudhu di setiap sholat. Begitu juga al hasan al bashri berpendapat. Berkata asy sya’bi : jikalau dia mandi sekali setiap hari maka itu cukup baginya.

 

Pendapat ketiga :

– Hendak nya wanita mustahadhoh mandi setiap sholat

Pendapat ini diriwayatkan dari ali bin abi tholib, ibnu abbas, ibnu umar, dan ibnu azzubair.

 

Pendapat keempat :

– Hendaknya wanita mustahadhoh menjama’ antara dzhuhur dan asar dengan satu kali mandi,menjama’ antara maghrib dan isya dengan satu kali mandi,serta mandi ketika shubuh.

Pendapat ini diriwayatkan dari ibnu abbas,dan ini adalah riwayat ketiga dari ibnu abbas.

Dan dengan pendapat ini juga atho’,ibrohim an nakho’i berkata. Bahkan auza’i sangat mengagumi pendapat ini hanya saja jikalau ada wanita mustahadhoh mengadu kepadanya bahwasanya dia tidak kuat untuk melakukan itu maka auza’i menyuruh nya untuk mandi dari dzhuhur ke dzhuhur dan wudhu di setiap sholat.

 

Pendapat kelima :

– wanita mustahadhoh tidak wajib baginya untuk berwudhu di setiap sholat kecuali jikalau wanita tersebut berhadats (seperti kencing,buang angin dan pembatal-pembatal wudhu lainnya) maka wajib bagi nya untuk mengulangi wudhu nya.

Pendapat ini diriwayatkan dari robi’ah bin abi abdirrohman.

 

Yang rojih dalam permasalahan ini :

– Darah istihadhoh tidak membatalkan thoharoh seorang wanita sehingga tidak wajib bagi wanita mustahadhoh untuk bersuci di setiap sholat kalau memang tidak ada hadats yang membatalkan wudhunya.

 

Berkata Abu Bakar Muhammad bin Ibrohim bin Al-Mundzir di dalam kitab al isyrof :

Telah diriwayatkan dari Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam empat riwayat, yang dimana dari setiap riwayat/khobar tersebut sesuai dengan pendapat-pendapat ulama yang telah disebutkan, kecuali pendapat robi’ah bin abdirrohman. Dan para ulama hadis, telah mendo’ifkan isnad-isnad dari keempat riwayat tersebut. Dan yang rojih adalah apa yang dikatakan oleh robi’ah bin abi abdurrohman. Tetapi aku tidak mengetahui ada seseorang dari ahlul ilmi (sebelumnya) yang mendahuluinya dengan pendapat ini. Hanya saja, saya katakan bahwa pendapatnya lah yang rojih dalam permasalahan ini. Sebab tidak ada bedanya antara darah mustahadhoh yang keluar sebelum wudhu dengan darah mustahadhoh yang keluar ketika dan setelah berwudhu. Karena jika hukum darah mustahadhoh itu kita katakan mewajibkan wudhu, maka sedikit dan banyaknya pada setiap waktu haruslah juga mewajibkan wudhu. Dan jikalau seperti ini kenyataan nya, maka kalau ada wanita mustahadhoh yang sedang berwudhu -dengan mencuci sebagian anggota wudhunya-, kemudian pada saat itu juga tiba-tiba keluar darinya darah istihadhoh maka seharus nya anggota-anggota wudhu yang telah dia cuci hukumnya telah batal (wajib mengulangi wudhu nya dari awal). Karena darah istihadhoh yang mewajibkan thoharoh (bagi mereka yang berpendapat akan wajibnya thoharoh bagi wanita mustahadhoh) itu telah keluar (pada saat si wanita berwudhu). (Jelas ini adalah pendapat yang marjuh maka saya katakan bahwa pendapat yang rojih adalah keluar nya darah istihadhoh tidaklah membatalkan wudhu seorang wanita). (Dan juga kami katakan) jikalau darah istihadhoh yang keluar dari wanita ketika berwudhu dan sebelum sholat serta ketika sedang sholat tidak membatalkan wudhu, maka sudah seharusnya darah yang keluar dari nya setelah selesai sholat juga tidak membatal kan thoharohnya kecuali ada hadats selain darah istihadoh.

Hal inilah yang menunjukkan kepada kita apa yang rojih dalam permasalahan ini. Selain hujjah ini pun juga terdapat sebuah riwayat yang diriwayatkan dari imam malik – lihat di mudawwanah kubro -, bahwasanya imam malik bin anas lebih menyukai bagi siapa saja yang memiliki penyakit kencing yang tidak dapat berhenti (air kencing yang terus keluar) agar orang tersebut berwudhu di setiap sholat, kecuali jika ada hawa dingin yang membuatnya sangat terganggu, maka dia (imam malik) berkata : saya berharap agar orang tersebut tidak meresa sempit jiwa nya untuk meninggalkan wudhu.

 

*** Di terjemahkan oleh abu barro’ al indunisi di kasala (30 desember 2014) dari kitab al isyrof karangan al imam abu bakar ibnul mundzir rohimahullohu ta’ala.***

Wallohu a’lam wa ahkam