28
tgl
Publikasi : Desember 2014 H
Oleh : administrator

Cara bersuci setelah bekam/hijamah

Cara bersuci setelah bekam/hijamah

Cara bersuci setelah bekam/hijamah

Banyak yang tidak tahu bagaimana cara bersuci setelah berbekam atau hijamah, ada beberapa pendapat yang akan di jelaskan seputar masalah ini yaitu :

Pendapat pertama :

– Tidak perlu berwudhu ( karena wudhu tidak batal disebabkan oleh hijamah ) tetapi hendaknya darah bekas hijamah dicuci.

Berkata Abu Bakar Muhammad bin Ibrohim bin Al-Mundzir :

Hukum hijamah sama dengan hukum darah yang keluar dari hidung ( baca : mimisan ) dan darah yang keluar dari tempat-tempat selain tempat keluarnya hadats ( yaitu kemaluan dan dubur ). Wudhu dari hal-hal tersebut tidaklah wajib dalam madzhab malik beserta ahlu madinah, syafi’i, abu tsaur dan yang lainnya. Semua hal-hal tersebut tidaklah membatalkan wudhu dalam madzhab mereka, dan juga tidak mengharuskan untuk berwudhu’, hanya saja bagi yang berhijamah (berbekam) di perintah kan untuk mencuci bekas darah bekam yang menempel di badannya kemudian baru sholat (jika dia dalam keadaan berwudhu).

Diriwayatkan oleh ibnu abi syaibah di dalam mushonnaf nya dan juga imam bukhori di dalam shohihnya muallaqon dengan shighoh jazm dari ibnu umar bahwasanya beliau jika telah selesai berhijamah maka beliau mencuci bekas darah hijamah yang menempel di badannya. Diriwayatkan juga hal ini dari ibnu abbas (lihat di mushonnaf ibnu abi syaibah). Ini adalah madzhab al hasan al bashri, ibrohim an-nakho’i, robi’ah, yahya al-anshori, malik, syafi’i dan abu tsaur.

 

Pendapat kedua :

– Tidak perlu berwudhu dan juga tidak perlu mencuci bekas darah hijamah.

Pendapat ini diriwayatkan dari al hasan al bashri dan makhul. Berkata hasan : aku tidak membersihkan apa-apa yang telah di bersihkan oleh tukang bekam.

 

Pendapat ketiga :

– Hendaknya berwudhu dan mencuci bekas darahnya.

Pendapat ini diriwayatkan dari ibnu umar, atho’, al hasan, qotadah,dan ahmad bin hanbal.

Berkata ahmad bin hanbal : hendaklah dia berwudhu darinya (hijamah) ,dan dari darah yang keluar dari hidung serta dari seluruh darah yang mengalir.

Dan ahmad bin hanbal berkata : hadis mush’ab bin syaibah (hadis yang mewajibkan mandi dari hijamah) adalah hadis munkar.

Ash-habur ro’yi juga berpendapat hendaknya dia mengambil wudhu kembali dan mencuci bekas darah hijamah yang menempel di badan nya.

 

Pendapat keempat :

– Hendak nya mandi (igtisal).

Pendapat ini diriwayatkan dari ali bin abi tholib (lihat di kitab mushonnaf bin abi syaibah) bahwasanya beliau lebih suka untuk mandi setelah hijamah. Dan dari ibnu abbas beliau berkata : jikalau seseorang dari kalian berhijamah maka hendak lah dia mandi setelah itu. Tetapi ibnu abbas tidak berpendapat akan wajib nya hukum mandi setelah hijamah.

Dan riwayat dari abdulloh bin amr bahwasanya beliau berkata : saya lebih menyukai untuk mandi (igtisal) pada lima perkara : setelah hijamah, setelah mandi uap, setelah mencukur rambut, ketika junub dan pada hari jum’at.

Pendapat ini adalah juga pendapat dari dhohhak bin muzahim dan mujahid.

 

Yang rojih dalam permasalahan ini :

Berkata Abu Bakar Muhammad bin Ibrohim bin Al Mundzir dalam kitab Al-Isyrof :

Telah kami sebutkan pada pembahasan yang lalu bahwasanya siapa saja yang telah bersuci maka dia tetap dalam keadaan suci kecuali ada pembatal dari kitab, sunnah atau pun ijma’ yang membatalkan kesucian nya tersebut. Jawaban pada hijamah apakah membatalkan thoharoh atau tidak, sama halnya dengan jawaban tentang darah yang keluar dari hidung, hanya saja hendaknya darah bekas hijamah yang menempel pada badan sebaiknya di cuci. Karena menghilangkan najis dari badan adalah wajib jikalau seseorang itu hendak melakukan sholat.

Dan jikalau seseorang berhujjah dengan hadis aisyah bahwa sanya rosululloh bersabda : mandi itu di karenakan empat hal : junub, hari jum’at, hijamah, dan setelah memandikan mayit.

Maka ketauhilah bahwa hadis ini tidak lah tsabit/shohih ( ini adalah hadis doif ). Telah berkata imam ahmad bin hanbal tentang hadis ini : hadis ini adalah dari jalur mus’ab bin syaibah dan dia bukan rowi yang tsiqoh. Ketika hadis mus’ab bin syaibah ini tidak shohih maka berhujjah dengan hadis tersebut adalah sesuatu yang bathil.

Dan telah sampai kepada ku tentang ahmad bin hanbal dan ali bin al madini bahwasanya mereka berdua telah mendo’ifkan hadis mus’ab bin syaibah (hadis yang mewajibkan mandi dari hijamah) dan juga hadis abu huroiroh yang mewajibkan mandi setelah memandikan jenazah.

Di terjemahkan dari kitab al isyrof libnil mundzir wallohu ta’ala a’lam wa ahkam).