20
tgl
Publikasi : November 2015 H
Oleh : administrator

Bentuk Perhatian Nabi kepada Umatnya

Bentuk Perhatian Nabi kepada Umatnya Sejuk dirasa, elok dipandang dan sedap didengar. Begitulah kira kira hidup bersama Nabi shalallah ‘alaihi wasallam, dan mari kita lanjutkan hikmah apa yang kita panen selanjutnya

Perhatian yang begitu besar terhadap umatnya, bahkan turut berbahagia dengan apa yang membahagiakan umatnya.

Manusia pada umumnya mempunyai kecenderungan untuk menyukai nilai nilai kebaikan, orang terjahat sekalipun, bahkan berbagai macam cara dilakukan masyarakat untuk mewujudkan hal itu.
kita ambil sebuah contoh, seseorang pulang dari pekerjaanya yang melelahkan, sesampainya di rumah ia dapati empat buah hatinya, yang masing masing dalam kesibukanya, yang terbesar dari mereka berumur sebelas tahun dan sedang disibukkan dengan acara televisi, anak kedua sedang menikmati hidangan makan malamnya, anak ketiga sedang begitu asyik dengan mainanya dan si bungsu sedang larut dalam belajarnya.

 

Kemudian sang ayah mengucapkan salam dengan suara yang mampu didengar oleh keempat anaknya,  namun tak satupun yang mempedulikannya, ada yang masih sibuk dengan acara televisinya, yang kedua masih tetap menikmati makan malamnya, yang ketiga asyik dengan mainannya, dan hanya anak keempat yang kemudian menghentikan aktifitas belajarnya, menjemput ayahnya meraih tangan kenannya dan menciumnya kemudian ia kembali ke tempat belajarnya, pertanyaanya…. siapakah kira kira dari keempat anak tersebut yang paling dicintai oleh ayahnya? Secara logika pastilah jelas semua akan menjawab, anak keempatlah yang paling dicintai, bukan karena ketampanan, atau kecerdasanya tapi lebih karena ialah yang paling peka dan yang paling merasa bahwa ayahnya adalah sosok yang begitu penting dalam kehidupannya. Dari hal ini bisa kita simpulkan bahwa sebenarnya nilai nilai kepekaan terhadap lingkungan itu amatlah penting bisa juga sebagai bentuk korelasi dari kata “anfa’uhum lin naas”.

Maka baginda Muhammad SAW ribuan tahun yang lampau telah menjadikan sifat peka ini sebagai selah satu bentuk seni bermuamalah, dan bagaimana beliau selalu mengajarkan kepada para sahabatnya, untuk selalu dapat menumbuhkan bahwa kepentingan saudaranya adalah kepentingannya juga, dan masalah saudaranya adalah masalahnya juga.

Kisah yang amat mengharukan terjadi di masa sahabat, dimana seorang Ka’ab bin Malik sahabat mulia yang harus menderita tekanan batin selama hampir dua bulan lamanya, ketika ia lalai untuk ikut pada perang Tabuk, disaat para munafiqiin bersilat lidah di hadapan Rasulullah, namun justru Ka’ab beserta dua sahabat lainya Hilal bin Umayah dan Murarah bin Rabi’  jujur dan harus menelan kenyataan yang pahit bahwa mereka diisolir oleh Rasulullah bahkan semua sahabat penduduk Madinah.

Dan bertambah beratlah ujian itu manakala Rasulullah memerintahkan untuk berpisah dari istrinya pada hari ke empat puluh. Secara naluri Rasulullah SAW adalah makhluk yang paling santun dan kasih sayang, pastilah seharusnya ia takkan pernah tega untuk memberi hukuman seberat itu, namun bagaimanapun inilah kehendak Allah, sampai kemudian hari ke lima puluh disaat Rasulullah sedang berada di rumah Ummu Salamah, Allah aza wa jalla menurunkan wahyu tentang pembebasan Kaab dan kedua kawanya, kemudian bertanyalah Umu Salamah “Wahai Nabiyullah bukankah sebaiknya kita segera menyampaikan pada Ka’ab bin Malik?” Rasulullah menjawab,

“اذًا يَحطِمَكم الناس ويمنعكم النوم سائر اليلة
(jikalau kita sampaikan berita ini maka pastilah kita akan mencegah mereka dari tidur sepanjang malam)
maksudnya adalah, luapan kegembiraan para sahabat di kota Madinah tentang kabar baik ini akan mencegah mereka dari tidur sepanjang malam karena pasti semua akan bersuka cita.

maka setelah beliau selesai dari shalat fajarnya barulah beliau mengizinkan dan mengutus sahabat untuk menyampaikan berita baik ini kepada Ka’ab.

Ka’ab bin Malik mengisahkan langsung kejadian tersebut,” Pada waktu sedang shalat subuh di suatu pagi dari malam yang ke-50 ketika aku sedang duduk berdzikir minta ampun dan mohon dilepaskan dari kesempitan hidup dalam alam yang luas ini, sungguh telah dijadikan dunia dengan keluasannya ini begitu sempit bagiku dan hal yang paling aku sedihkan adalah bagaimana jika kemudian aku mati dan Rasulullah pun enggan menyolatkanku, ataupun sebaliknya ketika beliau wafat kemudian aku tak dapat menyolatkannya, hingga kemudian para sahabat selamanya kan mengucilkanku, dan di saat keterpurukan hati yang begitu dalam tiba-tiba aku mendengar teriakan orang-orang memanggil namaku. ‘Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah! Wahai Ka’ab bin Malik, bergembiralah!”

Mendengar berita itu aku langsung sujud memanjatkan syukur kepada Allah. Aku yakin pembebasan hukuman telah dikeluarkan. Aku yakin, Allah telah menurunkan ampunan-Nya.
Rasulullah menyampaikan berita itu kepada shahabat-shahabatnya seusai shalat shubuh bahwa Allah telah mengampuni aku dan dua orang shahabatku. Berlomba-lombalah orang mendatangi kami, hendak menceritakan berita germbira itu. Ada yang datang dengan berkuda, ada pula yang datang dengan berlari dari jauh mendahului yang berkuda. Sesudah keduanya sampai di hadapanku, aku berikan kepada dua orang itu kedua pakaian yang aku miliki. Demi Allah, saat itu aku tidak memiliki pakaian kecuali yang dua itu.
Aku mencari pinjaman pakaian untuk menghadap Rasullah. Ternyata aku telah disambut banyak orang dan dengan serta merta mereka mengucapkan selamat kepadaku. Demi Allah, tidak seorang pun dari muhajirin yang berdiri dan memberi ucapan selamat selain Thalhah. Sikap Thalhah itu tak mungkin aku lupakan. Sesudah aku mengucapkan salam kepada Rasulullah, mukanya tampak cerah dan gembira, katanya kemudian, “Bergembiralah kau atas hari ini! Inilah hari yang paling baik bagimu sejak kau dilahirkan oleh ibumu!”
“Apakah dari Allah ataukah dari engkau ya Rasulullah?” tanyaku sabar.
“Bukan dariku! Pengampunan itu datangnya dari Allah!” jawab Rasul saw.
Demi Allah, aku belum pernah merasakan besarnya nikmat Allah kepadaku sesudah Dia memberi hidayah Islam kepadaku, lebih besar bagi jiwaku daripada sikap jujurku kepada Rasulullah saw.”

Adapun mengenai kisah Ka’ab dengan Thalhah, seorang saksi dari kisah ini menuturkan bahwa setelah itu bertambahlah kecintaan Ka’ab kepada Thalhah sampai ketika Thalhah wafat pun Ka’ab masih bertahun tahun selalu menceritakan tentang kemurahan sahabatnya itu, maka apakah yang membuat Ka’ab begitu mengelu-elukan sahabatnya Thalhah? Sesuatu yang mungkin teramat sederhana, namun begitu membekas, itulah energi idkholus suruur memberikan rasa bahagia bagi hati seseorang, lalu… sudahkah kita melakukan itu?